Sunday, March 8, 2015

Pencarian Identitas Indonesia Kontemporer



Pencarian Identitas Indonesia Kontemporer
Bagian terakhir dari perkembangan arsitektur di Indonesia adalah arsitektur modern yang merupakan tahap pencarian identitas Indonesia kontemporer. Asia merupakan sebuah benua yang sangat besar dengan ekspresi arsitektur yang kaya dan perpaduan yang mempesona antara budaya dan gaya hidup. Tempat berkembangnya unsure-unsur kuno dan modern ditambah dengan unsure-unsur Asia itu sendiri dan non-Asia yang telah bercampur selama berabad-abad. Wilayah yang paling signifikan untuk membangun arsitektur dengan unsure-unsur perpaduan tersebut adalah Indonesia. Sebab Indonesia memiliki lokasi dan keterbukaannya sebagai sebuah Negara kepulauan dan juga telah lama menjadi tempat pertukaran dan persilangan antara berbagai budaya dan peradaban.
Arsitektur modern berkembang antara tahun 1930 hingga tahun 1950 dengan ditandai oleh depresi ekonomi dunia, resesi besar-besaran dan diikuti dnegan perang di kawasan Eropa dan Asia Pasifik. Semua hal tadi menyebabkan terhentinya pembangunan juga proses akademik dan eksperimen arsitektur yang mulai berkembnag subur di Indonesia. Akibatnya perkembangan arsitektur dan juga pembangunan fisik di Indonesia jadi terhambat.
Bangunan Indonesia Kontemporer
Bangunan Indonesia Kontemporer


Saat tahun 1950 merupakan masa renainsans dalam pendidikan arsitektur dan dalam pembangunan kembali profesi arsitektur di Indonesia. Pada awal tahun 1950 Departemen Bangunan dibuka sebagai bagian dari Fakultas Ilmu Teknik Universitas Indonesia di Bandung. Sekolah arsitektur negeri pertama di Indonesia ketika merdeka diubah menjadi ITB (Institut Teknologi Bandung). Pada tahun 1960 pendidikan arsitektur swasta pertama didirikan di Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR) dibuka sebagai bagian dari fakultas teknik.
Masa antara 1960 hingga 1965 merupakan perkembangan arsitektur modern ditandai oleh dominasi oleh politik pembangunan karakter bangsa di bawah Sukarno dengan proyek-proyek raksasa nasional seperti hotel, toko serbaada, perkantoran, masjid, monument, jembatan laying, pusat olahraga, hingga pusat rekreasi yang didominasi oleh bangunan-bnagunan bergaya internasional pascaperang dan gaya sosialis dengan biaya dari pampasan perang Jepang. Gaya-gaya tersebut diperkenalkan oleh arsitek-arsitek yang belajar di luar negeri. Ideology modernisme, fungsionalisme, dan juga reduksionisme sangat berpengaruh terhadap pendidikan arsitektur, perencanaan dan perancangan tata kota, serta praktik arsitektur.
Pada masa pemerintahan Soeharto arsitektur modern ditandai oleh gedung-gedung tinggi gaya korporasi dari beton, baja dan kaca mendominasi kawasan bisnis Jakarta walau semuanya perpunggungan dengan perkampungan atau hunian kota yang padat, rendah dan juga kumuh. Sejak awal tahun 1970, proyek-proyek pembangun perkotaan skala besar telah dibangun di ibu kota seperti Ancol, Kroket, Senen, Grogol. Namun blok-blok baru yang fungsional itu tumpang tindih dengan bangunan-bangunan lama bahkan memusnahkan banyak bangunan bersejarah.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Pencarian Identitas Indonesia Kontemporer

0 comments: