Monday, March 2, 2015

Rumah Tradisional dalam Arsitektur Kuno Austronesia



Rumah Tradisional dalam Arsitektur Kuno Austronesia
Salah satu tradisi arsitektur kuno yang dimiliki oleh Indonesia yang masih bertahan adalah rumah dengan mampresentasikan tradisi arsitektur kuno Austronesia. Rumah tradisional Indonesia yang saat ini merupakan contoh nyata dari bangunan berkarakteristik dasar dengan fitur arsitektur venankular. Bangunan-bangunan dengan karakteristik seperti itu dapat ditemui pada daerah pelosok Indonesia. Namun tetap banguan satu dan lainnya memiliki perbedaan walau tetap satu karakter. Pada umumnya rumah-rumah tersebut dibangun dengan arsitektur kuno dan langgam banguan Arstonesia yang telah berkembang sebelum adanya arsitektur Hindu Budha, Islam, bahkan colonial Belanda.
 
Rumah Tradisional dalam Arsitektur Kuno Austronesia
Rumah Tradisional dalam Arsitektur Kuno Austronesia

Rumah Tradisional dalam Arsitektur Kuno Austronesia
Rumah Tradisional dalam Arsitektur Kuno Austronesia

Rumah Tradisional dalam Arsitektur Kuno Austronesia
Rumah Tradisional dalam Arsitektur Kuno Austronesia

Rumah Tradisional dalam Arsitektur Kuno Austronesia
Rumah Tradisional dalam Arsitektur Kuno Austronesia

Rumah Tradisional dalam Arsitektur Kuno Austronesia
Rumah Tradisional dalam Arsitektur Kuno Austronesia

Rumah Tradisional dalam Arsitektur Kuno Austronesia
Rumah Tradisional dalam Arsitektur Kuno Austronesia

Rumah Tradisional dalam Arsitektur Kuno Austronesia
Rumah Tradisional dalam Arsitektur Kuno Austronesia



Rumah Batak
Salah satu contoh rumah yang mempunyai karakteristik arsitektur kuno Austonesia yaitu rumah tradisional masyarakat Batak yang banyak mendiami pedalaman pegunungan di sekitar Danau Toba dan di Pulau Samosir di Provinsi Sumatra Utara. Masyarakat Batak terbagi menjadi enam keluarga besar yaitu Mandailing dan Batak Angkola di bagian selatan, Batak Toba dan Batak Pardembanan di bagian tengah, serta Pakpak, Simalungun, dan Batak Karo di bagian utara lainnya. Beragam keluarga Batak ini membangun rumah tradisional dan pengaturan rauang mereka dengan cara yang berbeda tergantung pada pertanian yang mereka kerjakan.

Rumah tradisional Batak berdenah persegi empat dengan struktur tiang tegak dan blandar, lantai panggung sebagai ruang kegiatan dan ditutupi oleh atap miring berbentuk pelana dengan lapisan ijuk tebal dan gabel yang condong ke luar. Ruangan dalam rumah Batak ini terbagi menjadi tiga susun vertical yaitu ruang bawah yang merupakan ruang di antara stuktur tiang dan blandar yang meyanggah ruang kegiatan. Ruang bagian tengah yang merupakan ruang kegiatan di lantai panggung dan tepat di bawah struktur atap yang menjulang. Pada bagian ruang atas merupakan ruang atap yang dibentuk oleh langit-langit dibagian depan rumah yang menutupi sebagian dari ruang kegiatan. Selain rumah tradisional arsitektur kuno Austonesia juga ditunjukan pada bangunan bale, lumbung padi, bangunan untuk menggiling beras, dan juga rumah penyimpanan jenazah.
Tongkonan Toraja
Masyarakat Toraja mendiami daerah pegunungan yang sulit dicapai di pedalaman Sulawesi Selatan yang mempunyai struktur arsitektur kuno Austronesia. Arsitektur ini sangat terlihat jelas pada bentuk dan juga fitur rumah nenek moyang kasta ningrat pada masyarakat Toraja yang biasanya digunakan sebagai tempat untuk menyelenggarakan pertemuan keluarga serata kegiatan upacara ritual. Rumah berbentuk kotak ini dibangun di atas struktur tiang dan blandar. Ruang diantara bangunan ditutupi dengan panil dekoratif. Atap rumah tongkonan berbentuk pelana yang kedua ujungnya melengkung tajam ke atas. Dibagian depan juga belakang rumah, kedua ujung atap yang melebar ditopang dengan sebuah tiang. Tongkonan selalu dibangun menghadap utara – selatan.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Rumah Tradisional dalam Arsitektur Kuno Austronesia

0 comments: