Sunday, March 8, 2015

Nasib Para Arsitek Eropa di Hindu Belanda



Nasib Para Arsitek Eropa di Hindu Belanda
Para arsitek Eropa yang bekerja di Hindia Belanda sebagian besar adalah orang Eropa. Benua asia merupakan sebuah benua yang sangat besar dengan ekspresi arsitektur yang kaya dan perpaduan yang mempesona antara budaya dan gaya hidup. Tempat berkembangnya unsure-unsur kuno dan modern ditambah dengan unsure-unsur Asia itu sendiri dan non-Asia yang telah bercampur selama berabad-abad. Wilayah yang paling signifikan untuk membangun arsitektur dengan unsure-unsur perpaduan tersebut adalah Indonesia. Sebab Indonesia memiliki lokasi dan keterbukaannya sebagai sebuah Negara kepulauan dan juga telah lama menjadi tempat pertukaran dan persilangan antara berbagai budaya dan peradaban.


Arsitek, opini, dan kenyataan
Arsitek Eropa yang paling menonjol dan sering menyajikan opini verbal ataupun tulisan dalam kongres dan majalah adalah Herman Th. Krasten, Henry Maclaine Pont, dan Charles P. Wolff-Schoemaker. Mereka memiliki pendapat dan karakter yang berbeda, mereka dianggap sebagai ujung tombak dalam pengungkapkan pendapat. Jumlah arsitek mumpuni di Hindia Belanda pada masa antara perang tidak sedikit. Banyak arsitek yang perfesional mendirikan kantor di kota-kota besar. Sebagian besar arsitek mengenyam pendidikan di Belanda, sementara sisanya adalah lulusan Jerman dan Austria. Kantor-kantor mereka memperkerjakan orang Indonesia, Eropa, Indo-Eropa atau keturunan China sebagai drafter atau mandor.
Candi Prambanan
Candi Prambanan

Candi Borobudur
Candi Borobudur

Karsten lahir tahun 1884 dalah sahabat dari Maclaine Pont dan datang ke Jawa pada tahun 1914. Awalnya ia bekerja di kantor Maclaine Pont di Semarang. Pada tahun 1916 ia ditunjuk sebagai penasihat dalam proyek perencanaan perkotaan oleh dewan kota Semarang, tugas pertama dari sejumlah tugas penasihat sepanjang perjalanan karirnya. Karsan dianggap sebagai arsitek penggagas urban modern Indonesia. Karya Krastan sebagai perencana perkotaan sangat mencolok, ia terlibat sebagai penasehat perencanaan dan perluasan kota-kota di Jawa dan Sumatera. Ia juga menjadi seorang komunikator dan penulis, tidak berhenti menekankan intisari hubungan antara penyusunan dan hubungan yang selaras antara unsur-unsur yang berbeda ketika membuat sebuah kota sebagai unsure kesatuan. Ia lalu menyadari keterbatasan ruang gerak sebagai arsitek Eropa yang bekerja di bawah colonial Belanda.
Wolff Schoemaker memperingatkan rekan-rekannya agar tidak terlalu berharap pada arsitektur domestic. Ia berpendapat bahwa arsitektur Jawa tidak bisa lagi dijadikan sumber inspirasi di zaman modern dan bahwa para arsitek harus lebih hati-hati dalam mengambil keputusan itu. Maclaine Pont adalah lawan terdekatnya, meski ia juga memperlihatkan sudut pandang berciri colonial. Walaupun berempati pada masyarakat Jawa ia merasa arsitek Eropa telah memandang remeh karena sering melihat buruknya konstruksi kayu hasil karya tenaga kerja Jawa.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Nasib Para Arsitek Eropa di Hindu Belanda

0 comments: