Sunday, March 8, 2015

Arsitektur Kuno dan Asing dalam Rumah Tradisional



Arsitektur Kuno dan Asing dalam Rumah Tradisional
Salah satu tradisi arsitektur kuno yang dimiliki oleh Indonesia yang masih bertahan adalah rumah dengan mampresentasikan perpaduan arsitektur kuno dan arsitektur asing. Kategori rumah dengan arsitektur ini mempunyai banyak contoh di mana karakter arsiutektur yang sulit dikenali. Perpaduan ini terbentuk dari arsitektur Austronesia kuno dangan arsitektur Hindu Budha, Islam, China, dan colonial Belanda yang menghasilkan berbagai bentuk percampuran yang memiliki karakter identitas yang berbeda-beda. Bentuk percampuran rumah tradisional ini biasanya mempunyai julukan nama khusus seperti tipe rumah tradisional Melayu. Sebenarnya beberapa rumah tradisional ini akan terlihat sama dengan bangunan yang dibangun dengan arsitektur kuno Austronesia namun beberpa bagian telah sulit dipahami akarnya.
Arsitektur Kuno dan Asing dalam Rumah Tradisional
Arsitektur Kuno dan Asing dalam Rumah Tradisional

Arsitektur Kuno dan Asing dalam Rumah Tradisional
Arsitektur Kuno dan Asing dalam Rumah Tradisional

Arsitektur Kuno dan Asing dalam Rumah Tradisional
Arsitektur Kuno dan Asing dalam Rumah Tradisional


Rumah Aceh dan Gayo
Rumah tradisional masyarakat Aceh merupakan salah satu contoh perpaduan arsitektur kuno dan arsitektur asing yaitu percampuran arsiektur Austronesia kuno dengan elemen bangunan masyarakat Melayu. Rumah tradisional ini biasanya dihuni oleh keluarga inti dan dipakai oleh keluarga besar dengan waktu yang relative pendek. Bentuk luar rumah ini biasanya berbentuk Austronesia yang berstruktur tegak berup tiang kayu, lantai yang ditinggali sebagai ruang keluarga, dan bentuk atap pelana meruncing tinggi. Keistemewaan dari rumah tersebut adalah perpanjangan jurai atap dan dinding sisi atap atau penahan angin yang berdekorasi padat dengan bentuk geometric. Pembagian ruang dalam sama seperti dengan rumah melayu, lantai yang berbeda dengan ketinggian berbeda pula diatur dengan berurutan. Bagian paling penting adalah ruang tidur yang berlokasi di tengah-tengah rumah dan berada di lantai paling tinggi.
Rumah Gayo
Rumah Gayo
 
Rumah Aceh
Rumah Aceh


Rumah tradisional berikutnya yang merupakan perpaduan antara arsitektur kuno dengan arsitektur asing adalah rumah tradisional masyarakat Gayo yang menetap di daerah pedalaman pegunungan yang cenderung terisolasi dan mempunyi denah rumah yang sama seperti rumah masyarakat Aceh. Ruang tengah biasanya terdiri atas beberapa ruang tidur yang dibatasi dengan galeri di muka dan belakang, sebagian untuk laki-laki dan sebagian yang lain untuk perempuan.
Rumah tradisional dibangun berdasarkan bangunan berarsitektur Melayu umumnya juga dijumpai di daerah lain di Indonesia. Contoh lainya adalah rumah tradisional masyarakat Minahasa di Sulawesi Utara dan juga masyarakat di area pantai di Kalimantan. Selain itu rumah tradisional masyrakat Bugis yang berada di Sulawesi Selatan juga mirip dengan bangunan arsitektur Melayu ketimbang dengan rumah tongkonan dari masyarakat Toraja. Rumah utama tersusun dari ruang kegiatan berbentuk kotak yang ditopang dengan struktur tiang dan blandar, namun dekorasi atap berbetuk silang menyimbolkan tanduk kerbau dengan atap yang terdiri atas tiga bentuk yaitu lurus, bundar, dan pelana.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Arsitektur Kuno dan Asing dalam Rumah Tradisional

0 comments: