Monday, March 2, 2015

Perkembangan Arsitektur Kolonial Indonesia



Perkembangan Arsitektur Kolonial Indonesia
Arsitektur colonial di Indonesia hingga detik ini masih bisa ditemuai diberbagai penjuru kota-kota di Indonesia. Benua asia merupakan sebuah benua yang sangat besar dengan ekspresi arsitektur yang kaya dan perpaduan yang mempesona antara budaya dan gaya hidup. Tempat berkembangnya unsure-unsur kuno dan modern ditambah dengan unsure-unsur Asia itu sendiri dan non-Asia yang telah bercampur selama berabad-abad. Wilayah yang paling signifikan untuk membangun arsitektur dengan unsure-unsur perpaduan tersebut adalah Indonesia. Sebab Indonesia memiliki lokasi dan keterbukaannya sebagai sebuah Negara kepulauan dan juga telah lama menjadi tempat pertukaran dan persilangan antara berbagai budaya dan peradaban.

Arsitektur, rujukan, dan perkembangan di Indonesia
Arsitektur colonial merupakan sebuah istilah atau pernyataan yang tidak dapat dijabarkan menggunkan definisi yang sederhana dan mapan. Arsitektur ini bisa mengacu pada karya-karya arsitektur dari masa silam, bangunan di koloni-koloni Barat yang telah merdeka bertahun-tahun yang lalu, atau mungkin hanya sebuah fitur arsitektur yang dikatakan sebagai pengembangan proyek ketika mereka mengklaim rumah-rumah bergaya colonial. Banyak peneliti yang mengatakan bahwa arsitek-arsitek di mantan Negara jajahan yang baru saja medeka terus membuat karya arsitektur mirip colonial. Jadi pendek kata makna istilah arsitektur colonial barangkali bisa berlipat ganda dan bermacam-macam. 
Arsitektur Kolonial Indonesia
Arsitektur Kolonial Indonesia

Arsitektur Kolonial Indonesia Arsitektur Kolonial Indonesia

Arsitektur Kolonial Indonesia
Arsitektur Kolonial Indonesia

Arsitektur Kolonial Indonesia
Arsitektur Kolonial Indonesia

Arsitektur Kolonial Indonesia
Arsitektur Kolonial Indonesia

Arsitektur Kolonial Indonesia
Arsitektur Kolonial Indonesia

Arsitektur Kolonial Indonesia Arsitektur Kolonial Indonesia
Arsitektur Kolonial Indonesia
Arsitektur Kolonial Indonesia


Di permukiman mereka terutama di Sri Langka dan Jawa, VOC menyelenggarakan kegiatan-kegiatan teknik sipilnya melalui sebuah jawatan semacam Dinas Pekerjaan Umum. Tukang kayu, tukang tembok, pandai besi, dan pekerja-pekerja terampil lain memiliki bengkel kerja di sana dan di Batavia meliputi ribuan budak. Tenaga-tenaga terampil dari Eropa diperbolehkan membuka usaha swasta mereka yang bergerak dalam perencanaan atau kontraktor untuk kawasan industry bangunan komrsial. Kontraktor asal China pun memberikan peran penting dalam membangun industry bangunan, mereka bekerja baik kepada VOC atau warga umum.
Selama masa kependudukan VOC batu bata diimpor dari Belanda atau diproduksi di dekat lokasi pembangunan. Sekitar awal zaman VOC pabrik bata dan pembakaran kapur biasa ditemukan di sekitar kota. Sejak awal VOC telah mengeluarkan peraturan-peraturan untuk standarisasi dan modifikasi batu bata, beguitu pula untuk genting dan ubin. Mandor-mondor ditunjuk secara khusus untuk mengawasi kegiatan produksi karena pelanggaran apa pun akan berakibat hukuman denda dalam bentuk uang. Pola cetakan, contoh detail dan ukuran untuk produk standar yang harus dipatuhi oleh industry bangunan akan dipajang di dinding balai kota Batavia.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Perkembangan Arsitektur Kolonial Indonesia

0 comments: