Friday, February 20, 2015

Percampuran Aspek Dalam Arsitektur Proto Modern



Percampuran Aspek Dalam Arsitektur Proto Modern
Arsitektur proto modern merupakan arsitektur kedua dari perkembangan arsitektur Indonesia yang terjadi hingga sekarang. Asia merupakan sebuah benua yang sangat besar dengan ekspresi arsitektur yang kaya dan perpaduan yang mempesona antara budaya dan gaya hidup. Tempat berkembangnya unsure-unsur kuno dan modern ditambah dengan unsure-unsur Asia itu sendiri dan non-Asia yang telah bercampur selama berabad-abad. Wilayah yang paling signifikan untuk membangun arsitektur dengan unsure-unsur perpaduan tersebut adalah Indonesia. Sebab Indonesia memiliki lokasi dan keterbukaannya sebagai sebuah Negara kepulauan dan juga telah lama menjadi tempat pertukaran dan persilangan antara berbagai budaya dan peradaban.
Perubahan arsitektur tersebut terwujud pada berbagai gaya dan bentuk arsitektur Indonesia dengan keragaman dan percampuran yang luar biasa sepanjang sejarah Indonesia. Bersama dengan itu, bentuk-bentuk dari arsitektur dan bentuk-bentuk tata kota secara fisik maupun materi merupakan perwujudan dari sebuah kepercayaan, kondisi sosial ekonomi dan politik, serta seni dan juga budaya.

Perkembangan arsitektur proto modern
Arsitektur proto modern sendiri ditandai denga kemunculan kota-kota cosmopolitan dan budaya perkotaan yang ditandai kebangkitan perdagangan, jasa, dan juga sector industry serta perkembangan inovasi seni dan gaya dalam perencanaan. Zaman terdahulu merupakan prakondisi yang sempurna untuk proses modernisasi yang selanjutnya mengalami percepatan selama zaman-zaman berikutnya.
Zaman proto modern dimulai pada tahun 1500 hingga 1600 M dan menjadi saksi atas urbanisasi dan spesialisasi dalam hubungan ekonomi modern yang berkembang baik secara kuantitas maupun kompleksitas yang sejalan dengan kedatangan para pedagang Islam dari selatan India, China, Arabia dan juga Persia. 

Arsitektur proto modern berkembang ketika pusat-pusat kekuasaan Islam muncul di pulau Jawa seperti Demak, selatan Sumatara yaitu Palembang, Semenanjung Malaka, dan juga Sulawesi (Goa). Berbagai aspek budaya Islam diadaptasi dan diadopsi juga dilebur dan disilangkan dengan unsure-unsur Hindu, Buddha, dan juga China. Perkembnagan tersebut mengakibatkan terwujudnya arsitektur masjid, komplek pemakaman keramat, dan taman-taman istana.
Salah satu contoh arsitektur proto modern adalah perencanaan masjid agung Demak yang adaptif. Berangkat dari prinsip kosmologi Hindu yang disebut mandala, rancangan komplek masjid ini memiliki tiga komponen utama yaitu sebuah ruang terbuka, kosentris, dengan titik pusat lingkaran berupa empat buah kolam strukrural yang melengkapi atap utama. Banguna ini dilengkapi dengan sebuah titik akses utama yang menghadap ke arah timur.

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+

Related : Percampuran Aspek Dalam Arsitektur Proto Modern

0 comments: